Kamis, 22 Juli 2010

Pantai Kuwaru Masih Alami



Di daerah Bantul, Yogyakarta kini semakin lengkap lagi dengan kehadiran suatu objek wisata Pantai Kuwaru. Dulunya pantai ini sungguh sepi bahkan tidak ada yang berkunjung ke Pantai Kuwaru ini. Letak pantai ini di sebelah timur Pantai Padansimo, yang lebih dulu terkenal di mata masyarakat.

Seberapa jauh Pantai Kuwaru ini dari pusat kota Jogja sekitar 30 kilometer, dan bias di tempuh dengan waktu sekitar 1 jam.
Tapi setelah masyarakat tahu dengan indahnya Pantai Kuwaru ini pendahulunya yang dulu ramai kini mulai beralih ke Pantai Kuwaru, bahkan Pantai ini mampu menyedot pengunjung yang begitu banyak di setiap hari libur.

Di Pantai Kuwaru ini pesisir pantainya masih bersih, belum banyak sampah yang berserakan, dan masih banyak binatang lautnya seperti jingking hhii…hiiiii……… dan di tepi Pantai Kuwaru masih banyak tumbuh pohon-pohon cemara laut yang enak buat berteduh sambil menikmati indahnya dan alaminya Pantai Kuwaru.

Semoga saja Pantai Kuwaru yang masih alami ini bisa terjaga ke alamiannya, dan itu semua menjadi tugas kita semua untuk menjaganya agar Pantai Kuwaru ini tetap seperti aslinya, tanpa harus merusak lingkungan di daerah Pantai Kuwaru.

Nasib Pengrajin Batik Kayu Jogja


Pengrajin batik di Bantul, Jogja merasa prihatin karena beberapa motif batik telah diklaim oleh orang luar Indonesia, seperti Malaysia.

Beberapa motif batik Indonesia telah dikalim oleh pihak luar. Salah satu contohnya batik motif Parang dari Yogyakarta telah diklaim dan telah dipatenkan Malaysia sejak 7 tahun lalu.Apabila pemerintah melalui instansi yang ada tidak segera bertindak, kemungkinan akan diambil dan dipatenkan pihak asing. Untuk itu perlu segera ada uluran tangan dari Pemprop DIY dan Pemkab Bantul, agar kekayaan intelektual di Yogya dan Bantul khususnya batik, tidak berpindah tangan ke pihak lain melalui hak paten,

Pemerintah harus segera merespon dan menampung atas semua keluhan para pengrajin batik, agar budaya yang merupakan warisan nenek moyang, tidak di ambil alih dan di cap sebagai kebudayaan orang asing. Dan pemerintah juga perlu memfasilitasi para pengrajin batik agar para pengrajin batik bias berkembang dan lebih berkreatif.

Daerah Bantul yang kaya akan sentra kerajinan batik, perlu menata kembali. Tidak hanya produk motif khas Bantul seperti khas Nitik Pleret, Wijirejo Pandak atau Giriloyo Imogiri, tetapi juga buat motif lain dan motif baru yang dihasilkan. Guna melindungi kreativitas dan kekayaan tradisi luhur bangsa dari peniruan, pembajakan, atau penjiplakan yang dilakukan pihak-pihak luar, seluruh motif batik lebih kurang 125 motif yang tumbuh sejak abad ke 15 Masehi, perlu segera dipatenkan ke Direktorat Perlindungan Hak Paten. “Motif-motif produk kita antara lain motif semen (modifikasi bentuk daun-daunan), ceplok (berbentuk bulat-bulat), geometri, nitik dan lereng. Motif-motif itu cenderung anonim atau tidak diketahui pasti penciptanya, tetapi telah mentradisi yang banyak digunakan dalam karya batik tulis.

Bahkan kini dalam perkembangannya Batik tidak hanya diatas kain tetapi juga diata kayu seperti yang dikembangkan di Dusun Krebet Pajangan Bantul. Yogyakarta. Namun sampai saat ini belum juga dipatenkan. Dikhawatirkan hasil karya mereka akan dipatenkan oleh pihak luar seperti beberapa motif batik tulis.

Pengrajin Batik Ibu dirjo yang sudah puluhan tahun menggeluti Batik Wijirejo Bantul mengaku prihatin dengan dipatenkannya batik oleh Malaysia demikian juga dengan Tatik pengrajik Batik Kayu asal Krebet Pajangan Bantul.